TUGAS 2 EKOLOGI ARSITEKTUR
ALVIANADITIA
20316644
Kelas : 1TB02
OPEN BUILDING
Ekologi adalah ilmu pendukung dalam arsitektur yang
berkaitan dengan perilaku manusia dan lingkungan sekitar. Ilmu ekologi sangat
diperlukan untuk menyeimbangkan antara bangunan dengan efek bangunan terhadap
lingkungan sekitar. Ilmu ini sudah banyak diterapkan dalam bangunan arsitektur.
Berbagai metode untuk meminimalisir efek negative yang ditimbulkan oleh
bangunan terhadap lingkungan sekitar, antara lain life cycle thinking,
metabolism building, dan open building.
Open building pertama kali diperkenalkan
olehJohn Hanbraken. Open building adalah salah satu metode yang banyak
digunakan saat ini. Open building memiliki prinsip bahwa bangunan harus
bersifat dinamis, yaitu bisa berubah (fleksibel) sesuai dengan kebutuhan
pengguna. Bangunan yang baik adalah bangunan yang bisa diubah-ubah sesuai
dengan kebutuhan, tetapi tidak mengubah bentuk dasarnya. Perubahan yang
dilakukan pada bangunan tersebut biasanya sebatas interior atau fasad bangunan,
tetapi tidak mengubah struktur dari bangunan tersebut.
Pada dasarnya bagian bangunan
yang paling stabil dan memiliki umur panjang adalah struktur dari bangunan itu
sendiri. Struktur adalah bentuk dasar bangunan yang menompang beban dari
bangunan. Sedangkan bagian lain dari bangunan, seperti dinding, jendela, dan
pintu merupakan material yang bisa diganti-ganti dan memiliki umur yang lebih
pendek daripada struktur. Dalam segi biaya perawatan, perawatan interior
(dinding, kaca, kayu,dll) jauh lebih mahal sehingga dapat merugikan pengguna.
Oleh sebab itu,biasanya pengguna memilih untuk menggantinya dengan yang baru.
Dalam proses pemikiran metode open building, harus menggunakan pemikiran dari
beberapa ahli sehingga tidak menimbulkan kesalahan yang justru akan menimbulkan
kerugian pada bangunan.
Perancang dituntut untuk
menerapkan open building pada bangunannya agar dasar bangunan tersebut bisa
dimanfaatkan terus menerus. Pada era saat ini, banyak bangunan yang telah
menerapkan prinsip open building. Prinsip open building sering diterapkan pada
bangunan umum, misalnya kantor, apartemen, mall, dan fasilitas umum lainnya.
Sebagian
besar bangunan tersebut merupakan vertical
building, yaitu bangunan tinggi. Salah satu contohnya adalah Dee and Charles
Wyly Theater yang berada di Dallas.
DEE AND
CHARLES WYLY THEATER
Arsitek:
REX | OMA
Lokasi:
Dallas, Amerika Serikat
Arsitek
Eksekutif: Kendall / Heaton Associates
Klien:
The AT & T Performing Arts Center
Lokasi
proyek: 7.700 meter persegi
Tahun
Proyek: 2006-2009

Gambar 1.
Fasad dari Dee and Charles Wyly Theater
Dee and Charles Theater dikenal
sebagai theater yang fleksibel. Theater ini dihadirkan dengan penuh inovasi
agar perkembangan theater bisa menyeimbangi perkembangan bioskop yang semakin
pesat. Theater ini menggunakan konsep vertical building. Dee and Charles
Theater bukan merupakan bangunan baru di atas sebuah lahan kosong, melainkan
menggantikan bangunan gudang logam yang telah lama tidak berfungsi. Klien
meminta sang arsitek untuk tetap mempertahankan bentuk dari bangunan lama dan
perabotan yang masih bisa digunakan. Theater ini dituntut untuk bisa
menghadirkan kebebasan didalam bentuk fasad bangunan sebelumnya, dan ruangan
dapat menjadi fleksibel dan multi-form sesuai kebutuhan klien, serta dengan
biaya operasional yang minim.
Dalam proses redisain gudang
menjadi sebuah gedung theater, perancang dan klien setuju untuk menggunakan
prinsip open building, sehingga penggunaan gedung ini bisa terus berlangsung
tanpa takut termakan usia. Prinsip open building ini juga ditunjukkan dengan
penerapan ide-ide sebagai dasar open building.
Gambar 2.
Konsep open building pada proyek
Dee and Charles wylu theater
meerupakan redesain dari bangunan lama tanpa mengalami pembongkaran struktur.
Perancang hanya menambah ruangan pada sisi bawah dan atas bangunan lama.
Struktur yang digunakan merupakan struktur ruang, yang terbuat dari rangka baja
pada bangunan atas dan shearwall pada bagian basement. Struktur ini didesain
sedemikian rupa agar bagian interior dan fasad bisa berubah – ubah sesuai
dengan kebutuhan pengguna atau klient. Base building pada wyly theater terdiri
dari dua elemen, yaitu struktur dan sistem utilitas. Base building merupakan
elemen yang tidak bisa diubah-ubah dalam perletakannya.

Gambar 3. Struktur bangunan yang merupakan base
building
Gambar 4.
Sistem utilitas dan pendukung lain
Pembagian ruang pada tiap lantai
tidak dilakukan secara horizontal (denah) seperti pada bangunan umum lainnya,
melainkan berupa tumpukan ruang dengan parameter volume, sehingga tidak ada
bentukan lantai yang sejajar tiap ruangan. Hal itu dikarenakan kebutuhan volume
setiap ruangan berbeda dan itu yang menjadi pertimbangan perancang. Unsur ruang
tambahan pada theater ini mencakup lobi, ruang latihan besar, ruang latihan
kecil / kotak hitam theater, pelindung lounge / kotak hitam lobi, ruang ganti,
ruang hijau, toko kostum, adegan perakitan, theater peralatan penyimpanan,
kantor, ruang pertemuan / pendidikan administrasi, staf ruang duduk, dan dua
teras.

Gambar 5.
Penyusunan ruang pada tiap lantai
Gambar 6.
Fit-out yang memungkinkan dalam bangunan

Gambar 7.
Fit-out pada interior bangunan
The Wyly Theater memberikan
Direktur Artistik untuk menentukan seluruh pengalaman theater (dari
kedatangan-pertunjukan-kepulangan) dengan menyediakan bukan hanya multi-bentuk,
tetapi juga multi-prosesi, theater. Dalam satu hari, waktu set-up, Direktur
Artistik dapat memilih antara mekanis ditingkatkan proscenium, dorong, studio
theater, dan konfigurasi lantai datar; dan mendekatkan mereka dengan terbuka,
prosesi, fokus, atau urutan sirkulasi episodik. Lantai datar Wyly Theater juga
memungkinkan konfigurasi kinerja dibayangkan lainnya yang akan dibangun, dan
tempat yang akan diubah menjadi ruang disewakan selama theater
Fit-out pada wyly theater bisa
diterapkan pada seluruh bagian dinding. Hal itu disesuaikan dengan kebutuhan.
Misalnya saat akan digunakan oleh grup music, maka pengguna bisa mengaturnya
dengan sekali tekan pada remote yang telah disediakan, dengan begitu dinding
dan plafon akan menyesuaikan dengan kebutuhan (peredam suara, pengaturan
cahaya, dll). Akibat dari kemudahan pengaturan theater, maka wyly theater
disebut sebagai mesin-theater.
Gambar 8.
Interior theater

Gambar 9.
Penataan kursi pengunjung

Gambar
10. Kursi pengunjung bisa diatur sesuai dengan kebutuhan
Theater ini menawarkan area yang
memiliki prinsip aksesibilitas, fleksibilitas, freedom. AKSESIBILITAS publik
meningkat di semua sisi dari Theater Wyly, demistifikasi kegiatan dan
menyatakan itu sebagai tempat populis dalam Distrik Seni. Hubungan antar ruang
pada tiap lantai mampu di akses oleh semua kalangan. Pengguna dapat menikmati
setiap ruangan saat berjalan.
The Wyly Theater merupakan
bangunan multi-bentuk. Jenis theater oleh ledakan komponen tahap bangunan.
Permukaan, tempat duduk, kontrol lampu, dan pemisahan akustik - untuk
memberikan FLEKSIBILITAS disesuaikan untuk masing-masing tanpa mengurangi lain.
Lantai permukaan dapat dibor, dicat, atau dipaku ke tempat duduk, termasuk
balkon, dapat bermutasi atau hilang sama sekali; dinding memberikan kontrol
lampu dapat seragam atau secara individu dimanipulasi; penghalang akustik
dematerialized menjadi perimeter kaca. Pada malam alternatif, perusahaan yang
sama dapat melakukan Hamlet dalam wadah kedap udara, atau - dilucuti dari veneer
tradisional auditorium melalui lensa Dallas dan realitas-TV.
Dalam proses redesain wyly
theater, klient juga ikut campur didalamnya, hal ini dapat dilihat dari
permintaan klien yang ingin tetap mempertahankan bangunan lama beserta
perabotan yang ada didalamnya, hal ini dilakukan untuk meminimalkan pengeluaran
biaya yang berlebihan. Selain itu klien juga meminta agar bangunan bisa
digunakan oleh semua orang dari berbagai bidang (drama, music, dan seni
lainnya).

Gambar
11. William D. Kendall dan The AT&T Performing Arts
Dalam proses redesain wyly
theater, berbagai ahli dalam berbagai bidang ilmu ikut turun tangan sehingga
theater dapat berfungsi dengan sempurna. Para professional yang ikut turun
tangan dalam proyek ini antara lain :
Executive
Architect: Kendall/Heaton Associates
Consultants: Cosentini, DHV,
Donnell, Front, HKA, Magnusson Klemencic, McCarthy, McGuire, Pielow Fair, Plus Group, Quinze & Milan, Theater
Projects, Tillotson Design, Transsolar, 2×4
MEP/FP Design Engineer: Transsolar
Energietechnik, Germany
MEP/FP
Engineer of Record: Cosentini
Associates, New York
Structural
Engineer of Record: Magnusson Klemencic
Associates, Seattle
Theater
Design: Theater Projects Consultants,
Connecticut
Acoustics:
Dorsserblesgraaf, Netherlands
ADA: McGuire Associates, Massachusetts
Construction
Management: McCarthy Construction
Cost: Donnell Consultants, Florida
Facades: Front, New York
Furniture:
Quinze & Milan, Kortrijk Belgium
Graphics/Wayfinding:
2 x 4, New York
Life
Safety: Pielow Fair, Seattle
Lighting:
Tillotson Design Associates, New York
Vertical
Transport: HKA, California
Mereka bekerja sesuai dengan keahliannya
masing-masing tetapi masih berintegritas dengan rancangan arsitekturalnya.
Gambar 12. Pengaturan ruang dalam yang disesuaikan
dengan fungsi
Wyly theater memiliki bentuk
dasar berupa persegi dan memanjang ke atas dan menggunakan struktur ruang,
sehingga bentuk dasar bangunan tetap balok, tetapi ruang dalamnya bisa
berubah-ubah sesuai dengan kebutuhan dan fungsi. Fasad bangunan terlihat tetap
dari luar bangunan, tetapi bagian dalamnya berubah-ubah. Untuk area theater
bagian bawah (dahulunya bekas gudang), fasadnya dapat berubah-ubah sesuai
fungsi theater yang bisa berubah juga.
Wyly theater memiliki fasad
bangunan seperti rumah panggung. Lantai bawah (diatas basement) merupakan area
tanpa dinding, hanya dibatasi oleh kolom- kolom. Area tersebut bisa digunakan
untuk pertunjukan.

Gambar 13. Bentuk fasad bangunan berupa rumah
panggung
Bangunan panggung pada wyly
theater ini bertujuan agar orang tetap bisa mengenali bangunan lama sebelum
theater ini didirikan, yaitu sebuah gudang yang lama tidak berfungsi. Selain
itu tanpa adanya dinding, menunjukkan keterbukaan dan memberi kesan theater
berada diruang luar (outdoor).
Dalam proses transformasi bentuk
(fit-out) pada interior bangunan, tetap harus mempertimbangkan efek baik
buruknya terhadap pengguna. Misalnya saat theater akan digunakan oleh seni
music, maka transformasi yang dilakukan harus sesuai dengan kebutuhan akustik
yang memadai, tidak sembarangan merubah bentuk atau elemen interior.

Gambar 14. Fasad theater yang sebelumnya berupa
gudang

Gambar 15. Fasad bangunan dari bagian dalam gedung,
terdaat permainan cahaya dariluar
Sebelum theater ini terbentuk,
bangunan yang sudah ada merupakan gudang yang memiliki bentuk dasar persegi.
Lalu perancang mendesain theater dengan menambahkan
ruang pada sisi atas dan bawah bangunan lama. Hal
ini menunjukan bahwa bangunan tidak berhenti pada suatu masa, melainkan harus
berjalan terus menerus. Mungkin suatu saat akan terjadi penambahan ruang pada
wyly theater.
Penerapan prinsip open building
pada bangunan akan memberikan efek baik bagi pengguna karena bersifat fleksibel
dan dapat disesuaikan dengan kebutuhan, tanpa harus mengubah struktur utama
dari bangunan itu sendiri. Karena mengubah struktur akan memerlukan biaya yang
lebih besar. Selain itu, struktur bangunan merupakan bagian dari bangunan yang
memiliki umur lebih lama disbanding lainnya, sehingga apabila bangunan sudah
tidak digunakan oleh pemilik lama dengan alasan tertentu, maka pemulik baru
tidak perlu membongkar bangunan secara keseluruhan, cukup bagian interior saja
dan tetap mempertahankan struktur bangunan.
Sumber :
http://www.designboom.com/architecture/rex-architecture-oma-dallas-center-for-the-
performing-arts-dee-and-charles-wyly-theater/































